Minggu, 01 Juni 2008

PEMECAHAN MASALAH DALAM BERPIKIR

PEMECAHAN MASALAH
Secara umum dapat dikemukakan bahwa problem itu timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan satu dengan keadaan yang lain dalam rangka mencapai tujuan, atau juga sering dikemukakan apabila ada kesenjangan antara das sein dan das sollen. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dalam problem solving itu adalah directed, yang mencari pemecahan dan dipacu untuk mencapai pemecahan tersebut.
Dalam mencari pemecahan terhadap problem solving itu ada kaidah atau aturan yang akan membawa seseorang kepada pemecahan masalah tersebut. Banyak aturan atau kaidah dalam memecahkan masalah. Ada 2 hal yang pokok, yaitu aturan atau kaidah algoritma dan horistik.
Algoritma merupakan suatu perangkat aturan, dan apabila aturan ini diikuti dengan benar maka akan ada jaminan adanya pemecahan terhadap masalahnya. Namun demikian banyak persoalan yang duhadapi oleh seseorang tidak dikenakan aturan algoritma, tetapi dikenai aturan atau kaidah horistik, yaitu merupakan strategi yang biasanya didasarkan atas pengalaman dalam menghadapi masalah. Yang mengarah pada pemecahan masalahnya tetapi tidak memberikan jaminan atas kesuksesan. Strategi umum horistik dalam menghadapi masalah, yaitu bahwa masalah tersebut dianalisis atau dipecah – pecah menjadi masalah – masalah yang lebih kecil, masing - masing mengarah kepada atau mendekati pemecahannya.
Menurut Selz metode – metode pemecahan itu penting sekali bagi proses berpikir. Karenanya orang berusaha menemukan atau mengembangkan metode – metode pemecahan yang tepat guna. Dengan begitu dinyatakan adanya prestasi intelegensi bias dididik. Khususnya hal ini terjadi bila jiwa anak atau orang yang bersangkutan sudah cukup matang dalam menerapkan metode pemecahan tersebut. Jadi ada proses kematangan jiwa yang disebut masa – masa peka oleh Montessori. Kesalahan – kesalahan bisa ditelusuri atau diusut, dan metode pemecahan bisa dipelajari.
Menurut Thorndike, dalam memecahkan problem yang dihadapi oleh kucing dalam eksperimennya tersebut dengan coba – salah (trial and error). Adanya latihan akan mempercepat pemecahan masalah.
Menurut Kohler dalam eksperimen dengan menggunakan peti – peti yang harus ditata oleh simpanse dalam rangka pencapaian makanan, ada 2 problem yang dihadapi oleh simpanse. Yaitu :
1. Problem geometric mencakup problem kuantitas dan bentuk
2. Problem static
Menururt Kohler problem geometric dipecahkan secara insight. Sedangkan problem static dipecahkan secara trial and error.

PENALARAN
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Konsep dan lambang dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan lambang. Lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dan lambangnya adalah kata, untuk proposisi lambangnya adalah kalimat (kalimat berita) dan untuk penalaran lambangnya adalah argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa 3 bentuk pemikiran manusia adalah aktifitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
• Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
• Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
BERPIKIR KREATIF
Berpikir kreatif merupakan salah satu cara yang dianjurkan. Dengan cara itu seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif. Pasalnya, seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah.
Menurut J.C. Coleman dan C.L. Hammen (1974), berpikir kreatif merupakan cara berpikir yang menghasilkan sesuatu yang baru - dalam konsep, pengertian, penemuan, karya seni.
Sedangkan D.W. Mckinnon (1962) menyatakan, selain menghasilkan sesuatu yang baru, seseorang baru bisa dikatakan berpikir secara kreatif apabila memenuhi dua persyaratan.
Pertama, sesuatu yang dihasilkannya harus dapat memecahkan persoalan secara realistis. Misalnya, untuk mengatasi kemacetan di ibukota, bisa saja seorang walikota mempunyai gagasan untuk membuat jalan raya di bawah tanah. Memang, gagasan itu baru, tetapi untuk ukuran Indonesia solusi itu tidak realistis. Dalam kasus itu, sang walikota belum dapat dikatakan berpikir secara kreatif.
Kedua, hasil pemikirannya harus merupakan upaya mempertahankan suatu pengertian atau pengetahuan yang murni. Dengan kata lain, pemikirannya harus murni berasal dari pengetahuan atau pengertiannya sendiri, bukan jiplakan atau tiruan. Misalnya, seorang perancang busana mampu menciptakan rancangannya yang unik dan mempesona. Perancang itu dapat disebut kreatif kalau rancangan itu memang murni idenya, bukan mencuri karya atau gagasan orang lain.
Menurut ahli lain, Dr. Jalaludin Rakhmat (1980) untuk bisa berpikir secara kreatif, si pemikir sebaiknya berpikir analogis.
Jadi, proses berpikirnya dengan cara menganalogikan sesuatu dengan hal lain yang sudah dipahami. Kalau menurut pemahaman si pemikir, kesuksesan adalah keberhasilan mencapai suatu tujuan, maka saat ia berpikir tentang kesuksesan, ciri-ciri berupa "berhasil mencapai tujuan" menjadi unsur yang dipertimbangkan.
Misalnya, seseorang dikatakan sukses bila ia dengan bekerja keras telah berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan. Tanpa tujuan yang jelas sulit bagi seseorang untuk bisa sukses. Namun, karena setiap orang mempunyai tujuan berbeda, maka standar kesuksesan setiap orang pun berbeda.
Di samping berpikir secara analogis, untuk berpikir secara kreatif, si pemikir juga harus mengoptimalkan imajinasinya untuk mereka-reka berbagai hubungan dalam suatu masalah.
Dengan ketajaman imajinasi, kita dapat melihat hubungan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Contohnya, Einstein melihat hubungan antara energi, kecepatan, dan massa suatu benda. Newton melihat hubungan antara apel jatuh dan gaya tarik bumi. Seorang pemuda Indonesia Baruno melihat hubungan antara keahliannya membuat kerajinan tangan dengan enceng gondok, sandal, dan uang.
Lima tahap berpikir kreatif
Agar mampu berpikir secara kreatif, pikiran harus dioptimalkan pada setiap tahap yang dilalui. Lima tahap pemikiran ialah orientasi, preparasi, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
Pada tahap orientasi masalah, si pemikir merumuskan masalah dan mengindentifikasi aspek-aspek masalah tersebut. Dalam prosesnya, si pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang tengah dipikirkan.
Pada tahap selanjutnya, preparasi, pikiran harus mendapat sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah tersebut. Kemudian informasi itu diproses secara analogis untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi. Si pemikir harus benar-benar mengoptimalkan pikirannya untuk mencari pemecahan masalah melalui hubungan antara inti permasalahan, aspek masalah, serta informasi yang dimiliki.
Pada tahap inkubasi, ketika proses pemecahan masalah menemui jalan buntu, biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kita akan terus bekerja secara otomatis mencari pemecahan masalah. Proses inkubasi yang tengah berlangsung itu akan sangat tergantung pada informasi yang diserap oleh pikiran. Semakin banyak informasi, akan semakin banyak bahan yang dapat dimanfaatkan dalam proses inkubasi.
Pada proses keempat, yakni iluminasi, proses inkubasi berakhir, karena si pemikir mulai mendapatkan ilham serta serangkaian pengertian (insight) yang dianggap dapat memecahkan masalah. Pada tahap ini sebaiknya diupayakan untuk memperjelas pengertian yang muncul. Di sini daya imajinasi si pemikir akan memudahkan upaya itu.
Pada tahap terakhir, yakni verifikasi, si pemikir harus menguji dan menilai secara kritis solusi yang diajukan pada tahap iluminasi. Bila ternyata cara yang diajukan tidak dapat memecahkan masalah, si pemikir sebaiknya kembali menjalani kelima tahap itu, untuk mencari ilham baru yang lebih tepat.
Proses berpikir kreatif
1. Brain Storming
Merupakan proses curah pendapat secara berkelompok
Pendapat yang terkumpul dicatat dan diidentifikasi sampai didapatkan butir-butir yang penting.
2. Brain Writing
Setiap orang menuliskan pendapatnya di atas kertas
Pendapat yang terkumpul dianalisis untuk menghasilkan poin-poin penting.
3. Synectic
Persoalan
Analisis
Perumusan ulang inti persoalan
Pengembangan gagasan
Menentukan jalan keluar
4. Attitude Listing
Bentuk dan karakteristik obyek diidentifikasi dan dicatat
Masing-masing bentuk dan karakteristik obyek dipelajari secara terpisah
Lalu dianalisis untuk kemungkinan ditingkatkan atau dirubah
5. Forced Relationship
Menggabungkan dua atau lebih obyek yang tidak memiliki kaitan untuk menghasilkan sesuatu yang baru
6. Morphological Analysis
Teknik ini hampir sama dengan attitude listing, hanya dalam pelaksanaannya semua variasi permasalahan didaftar dan dicatat untuk dicari dicari kemungkinan kombinasi yang baru.
7. Scamper
Merupakan suatu daftar pertanyaan untuk merangsang keluarnya ide-ide yang unik

Sifat orang yang berfikir kreatif
Mampu menghasilkan ide yang banyak dalam waktu yang singkat.
Mampu menghubungkan dan menggabungkan ide yang berbeda menjadi ide yang utuh
Mampu mengembangkan hal yang sederhana menjadi sesuatu yang lengkap
Mampu bekerja secara lengkap dan kompleks
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
Berani mengambil resiko
Cepat tanggap dan mandiri
Suka mencari ide-ide yang unik



PENINGKATAN KREATIFITAS
Defenisi kreatifitas
•Keinginan/kebutuhan untuk mengubah/mengembangkan ( improve)
•Melihat sebuah situasi/permasalahan dari sisi lain ( see differenty)
•Terbuka pada pelbagai gagasan bahkan yang tidak umum/aneh sekalipun ( open)

•Mengimplementasikan ide perbaikan( acting)

Cara meningkatkan kreatifitas
PASSION
Passion membuat seseorang punya fighting spirit /semangat juang. Ia tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apa pun, termasuk pekerjaannya. Masalah justru menjadi pemicu untuk mencari terobosan. Passion akan me-munculkan kreativitas secara spontan. Tanpa passion, prestasi gemilang tidak dapat diraih

TIME MANAGEMENT
Pengaturan waktu yang baik juga akan memunculkan kreativitas. Ada waktu bekerja. Ada waktu beristirahat. Karena itu, kita harus bekerja cerdas. Yaitu dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil optimal. Keberhasilan dalam perusahaan, tidak diukur berdasar lamanya waktu kerja kita. Tetapi pada hasil akhirnya, apakah sesuai harapan atau kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan.
Bekerja terus menerus tanpa diimbangi istirahat cukup membuat otak kita overload (kelebihan beban). Kita tidak punya lagi ruang berpikir untuk melihat hal baru. Dengan mengatur jam kerja serta jam istirahat dengan disiplin, aliran darah ke otak tidak terhambat karena kita memperoleh oksigen dengan sempurna. Saat kita merasa relaks, kita punya kesempatan untuk mengembang-kan ide baru.

NETWORKING
Manusia merupakan makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk bisa berinteraksi. Sesibuk apa pun kita, kita perlu upayakan tetap menyediakan waktu berkualitas untuk bertemu dengan banyak orang. Pertemuan itu mendatangkan energi kreativitas kita. Sikap utama yang dibutuhkan dalam membina networking yang positif adalah ”sikap rendah hati”. Mau mendengar pendapat dan dapat menghargai kelebihan orang lain. Sering berdiskusi dengan banyak orang akan menyulut ide yang memunculkan kreativitas yang lebih membumi, sesuai dengan kebutuhan zaman.

SENSE OF COMPETITION
Banyak orang merasa tidak nyaman dikelilingi pesaingnya. Baik itu secara individu di tempat kerja maupun sebagai perusahaan penghasil suatu produk. Padahal, berada di tengah-tengah pesaing, alarm kewaspadaan kita untuk ”selalu siaga” akan terus berbunyi. Kita tidak hidup dalam zona kenyamanan. Kreativitas akan lebih mudah diting-katkan saat situasi kita terjepit. Bila perlu carilah obyek yang dapat dipakai untuk membangkitkan ”sense of competition” agar kreativitas kita senantiasa berkem-bang. Akhirnya kita menjadi pemenang.

HUMILITY
Kerendahan hati merupakan sumber kreativitas. Sikap rendah hati membuat seseorang selalu melakukan introspeksi dan koreksi terhadap semua aktivitasnya. Hanya dengan kerendahan hati seseorang mau menerima teguran / masukan. Hanya dengan kerendahan hati pula seseorang tidak merasa superior dalam wawasan tetap ”merasa kurang”, sehingga selalu mencari sumber pengetahuan dengan berbagai cara. Humility sangat berperan dalam meningkatkan kreativitas.






DAFTAR PUSTAKA

Kartono,Kartini . 1996 . Psikologi Umum . Mandar Maju : Bandung
Walgito,Bimo . 2000 . Pengantar Psikologi Umum . Penerbit Andi Yogyakarta : Yogyakarta
www.google.com

0 comments: