Selasa, 22 April 2014

ARTIKEL MENGEMUDI AGRESIF (AGGRESSIVE DRIVING) M NURHADI, MM DI SITUS STTD HASIL PLAGIAT??

Hari Jumat 18 April 2014 saya masuk ke blog pribadi, dan saya melihat ada 2 komentar  mengenai  tulisan agressive driving yang perlu dimoderisasi. Isi komentar meminta materi aggressive driving agar dikirim ke email mereka (orang yang berkomentar di blog) hal ini karena diblog pribadi saya terdapat postingan abstrak hasil penelitian yang berhubungan dengan aggressive driving. Setelah itu saya browsing mengenai mengemudi agresif. Saya penasaran dengan salah satu judul tulisan yang sama dengan variabel skripsi saya aggressive driving karena saat menyusun skripsi pada 2011 sangat susah menemukan artikel Indonesia yang berkaitan dengan teori mengemudi agresif. Setelah mendownload dan membaca tulisan yang berjudul mengemudi agresif (aggressive driving), ditemukan isi tulisan yang sama dengan kajian teori karya ilmiah skripsi saya. Sayapun membacanya berulang kali untuk memastikan apa yang saya baca bukanlah sebuah kekeliruan. Ternyata benar isinya memang sama dengan skripsi yang saya buat pada 2011,  tulisan saya telah dipublikasikan tanpa izin di web salah satu Sekolah Tinggi Kedinasan tanpa mencantumkan sumber asli. Dalam tulisan ini hanya ada nama M. Nurhadi, MM MT di pojok kiri atas yang berarti orang inilah sebagai penulis dan yang mengupload ke web Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Tulisan ini ditempatkan di menu download dengan nama file aggressive driving dan diupload ke web pada januari 2014.
Entah apa tujuan si penulis M. Nurhadi, MM, MT mempublikasikan tulisan berjudul ”Mengemudi Agresif “ (Aggressive Driving)  di web http://sttd.ac.id tanpa mencantumkan sumber asli. Isi dari tulisan M Nurhadi MM MT memiliki kesamaan dengan kajian teori skripsi yang berjudul Perbedaan Aggressive Driving pada Remaja ditinjau dari Frekuensi Perilaku Membolos.
Tulisan aggressive driving yang merupakan kajian teori dari variabel skripsi aggressive driving memang pernah diposting di blog pribadi muhammad-reza.blogspot.com dengan judul Aggressive Driving (Mengemudi Agresif), meskipun akhirnya postingan tersebut diedit lagi dengan tidak memasukkan keseluruhan isi tulisan aggressive driving seperti isi skripsi. Dalam blog  pribadi tersebut juga sengaja tidak dicantumkan daftar pustaka agar orang tidak langsung copy paste dan jika membutuhkan bisa menghubungi penulis. Tulisan diblog sudah diedit karena ada perasaan takut tulisan tersebut diplagiat oleh orang lain tanpa mencantumkan sumber asli . Ternyata yang dikhawatirkan memang terjadi, saya menemukan tulisan yang sama dengan isi kajian teori skripsi untuk variabel aggressive drving yang berarti ada indikasi bahwa tulisan sudah diplagiat orang lain. Sampai saat ini pihak penulis yang mengupload  tulisan aggressive driving di web http:// sttd.ac.id belum dapat konfirmasi karena kontak si penulis tidak didapatkan.
Bagian tulisan aggressive driving M. Nurhadi MM MT bisa dilihat di http://sttd.ac.id/phocadownload/nurhadi/agressivedriving1.pdf
Dan  kajian teori skripsi dengan variabel aggressive driving bisa diakses di blog http://muhammad-reza.blogspot.com/2013/03/aggressive-driving-mengemudi-agresif.html (diblog sudah dilakukan pengeditan, sumber asli hard copy/soft copy skripsi)
Inilah potongan-potongan isi tulisan mengemudi agresif (aggressive driving)  M. Nurhadi MM MT di web http://sttd.ac.id Januari 2014 :
Pengertian Agresi
Agresi adalah tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang ingin menghindari perlakuan semacam itu, Baron & Byrne (2005:137). Sedangkan menurut Anderson & Bushman (2002:28) agresi adalah setiap perilaku yang diarahkan terhadap individu lain yang dilakukan dengan kemarahan yang membahayakan orang lain.
Dan seterusnya..................
Berdasarkan berbagai pendapat diatas maka agresi didefinisikan sebagai perilaku atau perbuatan yang secara sosial tidak dapat diterima karena orientasinya merugikan diri sendiri dan orang lain. Agresi merupakan perilaku yang muncul karena adanya faktor-faktor pendorong baik yang berasal dari dalam individu maupun luar individu. Dengan kata lain munculnya agresi selalu didahului dengan penyebab. Seiring perkembangan jaman dan evolusi pemikiran manusia maka kausalitas agresi mengalami perluasan bidang menjadi semua pengaruh negatif.
Kajian teori Aggressive Driving skripsi Muhammad Reza 2011 :
Pengertian Agresi
Agresi adalah tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang ingin menghindari perlakuan semacam itu, Baron & Byrne (2005:137). Sedangkan menurut Anderson & Bushman (2002:28) agresi adalah setiap perilaku yang diarahkan terhadap individu lain yang dilakukan dengan kemarahan yang membahayakan orang lain.
Dan sterusnya...............................
Berdasarkan berbagai pendapat diatas maka agresi didefinisikan sebagai perilaku atau perbuatan yang secara sosial tidak dapat diterima karena orientasinya merugikan diri sendiri dan orang lain. Agresi merupakan perilaku yang muncul karena adanya faktor-faktor pendorong baik yang berasal dari dalam individu maupun luar individu. Dengan kata lain munculnya agresi selalu didahului dengan penyebab. Seiring perkembangan jaman dan evolusi pemikiran manusia maka kausalitas agresi mengalami perluasan bidang menjadi semua pengaruh negatif.
Tulisan Aggressive driving  versi M. Nurhadi MM MT sama semua dengan yang ada didalam skripsi Muhammad Reza.
M. Nurhadi MM MT
Pengertian Aggressive Driving
Agresi apabila dikaitkan dengan perilaku dalam mengemudi maka disebut dengan aggressive driving. Grey, Triggs & Haworth (1989:10) mendefinisikan aggressive driving dalam dua hal: pertama aggressive driving termasuk apa yang biasanya diklasifikasikan sebagai perilaku ekstrim, dan tindakan pembunuhan, sengaja bunuh diri dan serangan berbahaya (fisik atau psikologis). Definisi kedua mencakup konsep mengambil risiko. Perilaku mengemudi yang agresif dalam penampilan, tetapi tidak selalu bermaksud untuk menyebabkan kerugian, walaupun selanjutnya dapat menempatkan pengguna jalan lain berisiko. Dan seterusnya...................
Berdasarkan berbagai definisi yang dikemukakan ahli dapat dilihat bahwa aggressive driving memiliki pengaruh yang besar baik dari segi psikologis maupun fisik dan dapat disimpulkan bahwa aggressive driving adalah suatu tindakan yang dapat membahayakan keselamatan diri pengendara dan keselamatan pengendara lain dikarenakan pengendera dipengaruhi oleh keadaan emosional, perasaan tidak sabar yang menyebabkan pengendara menjadi frustasi, ugal-ugalan dijalan, melanggar lalu lintas, dan menyalip kenderaan lain.
Skripsi Muhammad Reza
Pengertian Aggressive Driving
Agresi apabila dikaitkan dengan perilaku dalam mengemudi maka disebut dengan aggressive driving.
Grey, Triggs & Haworth (1989:10) mendefinisikan aggressive driving dalam dua hal: pertama aggressive driving termasuk apa yang biasanya diklasifikasikan sebagai perilaku ekstrim, dan tindakan pembunuhan, sengaja bunuh diri dan serangan berbahaya (fisik atau psikologis). Definisi kedua mencakup konsep mengambil risiko. Perilaku mengemudi yang agresif dalam penampilan, tetapi tidak selalu bermaksud untuk menyebabkan kerugian, walaupun selanjutnya dapat menempatkan pengguna jalan lain berisiko.
Dan seterusnya...........
Berdasarkan berbagai definisi yang dikemukakan ahli dapat dilihat bahwa aggressive driving memiliki pengaruh yang besar baik dari segi psikologis maupun fisik dan dapat disimpulkan bahwa aggressive driving adalah suatu tindakan yang dapat membahayakan keselamatan diri pengendara dan keselamatan pengendara lain dikarenakan pengendera dipengaruhi oleh keadaan emosional, perasaan tidak sabar yang menyebabkan pengendara menjadi frustasi, ugal-ugalan dijalan, melanggar lalu lintas, dan menyalip kenderaan lain
M. Nurhadi MM MT
Bentuk-bentuk  Aggressive Driving
Bentuk-bentuk agresivitas pengendara sepeda motor merupakan perilaku-perilaku agresivitas yang ditunjukan selama mengendarai sepeda motor. Beberapa peneliti menganggap bahwa hostility, kemarahan, dan agresi dapat mewakili komponen kognitif, afektif, dan perilaku sebagai konsep multidimensi yang sama, Barefoot, Buss & Perry, (dalam Leon at.el, 2002:46). Sedangkan Buss & Perry, (dalam Leon at.el, 2002:46) menginterpretasi bahwa agresi terdiri atas empat sifat. Dalam hal ini agresi fisik dan verbal mewakili komponen instrumental atau motor, kemarahan mewakili komponen emosi atau afektif, dan permusuhan (hostility) mewakili komponen kognitif.
Dan seterusnya...........
Pada bagian ini penulis M Nurhadi MM MT menghilangkan acuan bentuk aggressive driving yang akan digunakan dalam penelitian ini akan didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Buss dan Perry karena merupakan bentuk aggressive driving yang nampak dalam perilaku berkendaraan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian mengenai bentuk agresivitas berkendara Tasca (2008), Johnson, Stradling & Meadows (2001) yang merupakan manifestasi dari pendapat Buss dan Perry.
Skripsi Muhammad Reza
Bentuk-bentuk  Aggressive Driving
Bentuk-bentuk agresivitas pengendara sepeda motor merupakan perilaku-perilaku agresivitas yang ditunjukan selama mengendarai sepeda motor. Beberapa peneliti menganggap bahwa hostility, kemarahan, dan agresi dapat mewakili komponen kognitif, afektif, dan perilaku sebagai konsep multidimensi yang sama, Barefoot, Buss & Perry, (dalam Leon at.el, 2002:46). Sedangkan Buss & Perry, (dalam Leon at.el, 2002:46) menginterpretasi bahwa agresi terdiri atas empat sifat. Dalam hal ini agresi fisik dan verbal mewakili komponen instrumental atau motor, kemarahan mewakili komponen emosi atau afektif, dan permusuhan (hostility) mewakili komponen kognitif.
Dan seterusnya..................................
Acuan bentuk aggressive driving yang akan digunakan dalam penelitian ini akan didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Buss dan Perry karena merupakan bentuk aggressive driving yang nampak dalam perilaku berkendaraan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian mengenai bentuk agresivitas berkendara Tasca (2008), Johnson, Stradling & Meadows (2001) yang merupakan manifestasi dari pendapat Buss dan Perry.
Nurhadi MM, MT
Faktor-faktor  Penyebab Aggressive Driving
Menurut Baron & Byrne (2005:169) temuan penelitian mengindikasikan bahwa agresi berasal dari begitu banyak variabel yakni: faktor-faktor sosial seperti frustasi, provokasi langsung, pemaparan terhadap kekerasan di media, dan keterangsangan yang meningkat, karekteristik pribadi seperti pola perilaku tipe A, bias atribusional hostile, gender, dan faktor-faktor situasional seperti suhu udara tinggi, alkohol, dan belief  budaya, nilai-nilai. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang juga menyebabkan aggresive driving yang dapat menimbulkan kerugian bagi individu maupun orang lain.
Dan seterusnya................
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor yang berkontribusi dalam memunculkan perilaku aggressive driving yakni faktor internal seperti kepribadian, suasana hati, gaya hidup, prilaku pengambilan risiko dan faktor eksternal seperti lingkungan, cuaca, dan kondisi jalan.
Secara keseluruhan artikel  aggressive driving yang diupload  ke web http://sttd.ac.id oleh M Nurhadi MM MT memiliki kesamaan dengan kajian teori pada skripsi Muhammad reza, meskipun ada beberapa bagian tulisan yang dihilangkan oleh penulis. Seperti pada bentuk-bentuk dan faktor-faktor aggressive driving. Pada  faktor-faktor aggressive driving seperti bagian gambar yang menerangkan faktor-faktor perilaku mengemudi dihilangkan. Selain itu pada tulisan milik M Nurhadi MM MT tidak dicantumkan sumber pustakanya.
Tulisan M Nurhadi MM MT yang diupload di web http://sttd.ac.id juga bisa dibandingkan dengan hard copy dan soft copy skripsi yang saya miliki untuk membuktikan kesamaan tulisan ini dan sebagai bukti telah terjadi tindakan plagiat.
Pada tahun 2011 refrensi tentang mengemudi agresif merupakan refrensi yang termasuk sulit didapatkan karena di Indonesia belum banyak penelitian yang berkaitan dengan Perilaku  mengemudi agresif. Materi kajian teori aggressive driving pada skripsi diambil dari berbagai sumber baik dari jurnal luar negeri maupun buku. Kebanyakan materi harus diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Tak heran ketika saya menemukan adanya tulisan saya yang terindikasi diplagiat oleh orang lain saya merasa sedih dan kecewa. Apalagi dalam tulisan tersebut tidak disertai sumber pengarang dan daftar pustaka.  Hal ini menguatkan bahwa tulisan aggressive driving memang sudah diplagiat
Read more >>

Sabtu, 19 April 2014

Pengumuman

Sehubungan dengan adanya indikasi tulisan saya sudah di plagiat orang lain tanpa mencantumkan sumber asli, maka bagi pengunjung blog saya yang membutuhkan refrensi Aggressive driving, perilaku membolos, subjektive well being  dan refrensi materi psikologi lainnya agar bisa menghubungi saya di kontak 085369975967 atau via fb.
 
Bagi media yang mengutip tulisan, berita atau poto muhammad-reza.blogspot.com tanpa berlangganan dan memuat di media mereka untuk tujuan komersial, redaksi akan menyampaikan somasi dan melakukan penuntutan secara hukum.
Dengan mengakses dan menggunakan muhammad-reza.blogspot.com, berarti anda telah memahami dan setuju bahwa:
  1. Data dan informasi disediakan di muhammad-reza.blogspot.com hanya sebagai informasi dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham dan/atau transaksi lainnya. Meski segala upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan informasi seakurat mungkin, muhammad-reza.blogspot.com tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi.
  2. muhammad-reza.blogspot.com menyediakan link ke situs lain, link tersebut tidak menunjukan bahwa muhammad-reza.blogspot.com menyetujui situs pihak lain tersebut. Anda mengetahui dan menyetujui bahwa muhammad-reza.blogspot.com tidak bertanggung jawab atas isi atau materi lainnya yang ada pada situs pihak lain tersebut. Setiap perjanjian dan transaksi antara anda dan pengiklan yang ada di muhammad-reza.blogspot.com adalah antara anda dan pengiklan. Anda mengetahui dan setuju bahwa muhammad-reza.blogspot.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kehilangan atau klaim yang mungkin timbul dari perjanjian atau transaksi antara anda dengan pengiklan.
  3. Komentar yang disampaikan para pembaca tidak menjadi tanggung-jawab redaksi Imuhammad-reza.blogspot.com.
Read more >>

Selasa, 26 Maret 2013

Perilaku Membolos

Perilaku Membolos

1. Pengertian Perilaku Membolos

Menurut Irwanto, dkk (1994:20) pada umumnya perilaku dapat ditinjau secara sosial, yaitu pengaruh hubungan antara organisme dengan lingkungannya terhadap perilaku, intrapsikis yaitu proses-proses dan dinamika mental atau psikologis yang mendasari perilaku, serta biologis, yaitu proses-proses dan dinamika yang syaraf-faali (neural fisiologis) yang ada dibalik perilaku. Sedangkan Soekidjo (dalam Sunaryo, 2004:3) secara operasional perilaku diartikan suatu respon organisme atau seseorang, terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut. Ensklopedia Amerika (dalam Sunaryo, 2004:3) mengartikan perilaku sebagai suatu aksi reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tetentu, Notoatmodjo (dalam Sunaryo, 2004:3). Kwick (dalam Sunaryo, 2004:3) mendefinsikan perilaku sebagai tindakan atau perilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Sedangkan menurut Sunaryo (2004:3) perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku berhubungan dengan esensi dasar manusia diantaranya adalah perilaku membolos. 


Perilaku berhubungan dengan esensi dasar manusia diantaranya adalah perilaku membolos. Membolos adalah tidak masuk selama waktu pelajaran di sekolah. Teasley (dalam Jacobs & Kristonis, 2007) mendefinisikan membolos sebagai setiap kejadian ketika seorang siswa tidak hadir sekolah. Stou (dalam Reid, 2004:59) menjelaskan bahwa  perilaku membolos merupakan perilaku sebagai absen dari sekolah untuk alasan yang tidak sah. Sedangkan Reeves (2006) mendefinisikan membolos sebagai ketidakhadiran tanpa alasan selama lima kali atau lebih per semester.
Sehubungan dengan adanya indikasi tulisan saya sudah di plagiat orang lain tanpa mencantumkan sumber asli, maka bagi pengunjung blog saya yang membutuhkan refrensi Aggressive driving, perilaku membolos, subjektive well being  dan refrensi materi psikologi lainnya agar bisa menghubungi saya di kontak 085369975967 atau via fb.
Read more >>

Aggressive Driving (Mengemudi Agresif)

Aggressive Driving
1. Pengertian Agresi

Agresi Agresi adalah tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang ingin menghindari perlakuan semacam itu, Baron & Byrne (2005:137). Sedangkan menurut Anderson dan Bushman (2002:28) agresi adalah setiap perilaku yang diarahkan terhadap individu lain yang dilakukan dengan kemarahan yang membahayakan orang lain. Atkinson (2005:58) mendefinisikan agresi sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain (secara fisik maupun verbal) atau merusak harta benda. Pendapat lain diungkapkan oleh Kenrick, Neuberg & Cialdin (2007:365) yang mendefinisikan agresi sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai lainnya.Definisi ini senada dengan yang dikemukakan Sears, Freedman & Peplau (1985:44) yang mendefinisikan agresi sebagai tindakan yang melukai orang lain dan yang dimaksudkan untuk itu.

Dari berbagai pendapat diatas maka agresi didefinisikan sebagai perilaku atau perbuatan yang secara sosial tidak dapat diterima karena orientasinya merugikan diri sendiri dan orang lain. Agresi merupakan perilaku yang muncul karena adanya faktor-faktor pendorong baik yang berasal dari dalam individu maupun luar individu. Dengan kata lain munculnya agresi selalu didahului dengan penyebab. Seiring perkembangan jaman dan evolusi pemikiran manusia maka kausalitas agresi mengalami perluasan bidang menjadi semua pengaruh negatif. 
 
2. Pengertian Aggressive Driving 

Agresi apabila dikaitkan dengan perilaku dalam mengemudi maka disebut dengan aggressive driving. Grey, Triggs & Haworth (1989:10) mendefinisikan aggressive driving dalam dua hal: pertama aggressive driving termasuk apa yang biasanya diklasifikasikan sebagai perilaku ekstrim, dan tindakan pembunuhan, sengaja bunuh diri dan serangan berbahaya (fisik atau psikologis). Definisi kedua mencakup konsep mengambil risiko. Perilaku mengemudi yang agresif dalam penampilan, tetapi tidak selalu bermaksud untuk menyebabkan kerugian, walaupun selanjutnya dapat menempatkan pengguna jalan lain berisiko. 

Hauber (dalam Tasca, 2008:4) mendefinisikan agresi di jalan sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi atau perilaku dimana pelaku bermaksud untuk melukai secara fisik dan psikologis kepada korban berdasarkan atas pengalaman korban. Definisi tersebut menyatakan bahwa pelaku harus memiliki harapan bahwa perilaku mereka akan menyebabkan korban memiliki pengalaman terluka secara fisik atau psikologis Mizell (1997:3) aggressive driving didefinisikan sebagai sebuah insiden di mana seorang pengendara mobil marah atau tidak sabar dan melukai pengendara lain, penumpang dan pejalan kaki sebagai respons terhadap sengketa atau keluhan lalulintas. 

Read more >>

STRESS KERJA

Stres Kerja

a. Pengertian

Stres Kerja Stres adalah kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses pikiran, dan kondisi fisik seseorang, apabila stres ini terlalu besar maka dapat mengancam kemampuan seseorang dalam menghadapi lingkungan (Davis dan Newstrom, 1985:195). Dalam kehidupan sehari-hari stres dapat diartikan sebagai sesuatu yang membuat kita mengalami tekanan mental atau beban kehidupan, suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam yang menimbulkan ketegangan, mengganggu keseimbangan karena masalah atau tuntutan penyesuaian diri. Menurut Selye H. (dalam sunaryo; 2004:214) “Stres adalah respon manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada pada dirinya”. Menurut Donnelly (1985:204) menyatakan: Stres kerja adalah suatu tanggapan adaptif, ditengahi oleh perbedaan individu dan/atau proses psikologi, yaitu suatu konsekuensi dari setiap kegiatan (lingkungan), situasi, atau kejadian eksternal yang membebani tuntutan psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang. Menurut Fawzi (2001:394) perhatian terhadap masalah stres harus dibedakan atas jenisnya yaitu stres yang disebut eustres (yang berdampak positif) dan distress (yang berdampak positif). Stres yang berdampak positif dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan karena dapat memberikan semacam rangsangan dan motivasi untuk memecahkan suatu masalah sehingga dapat mencapai hasil yang optimal , tapi penelitian ini adalah pada stres sebagai distress yaitu stres yang mengakibatkan dampak merugikan bagi manusia seperti terganggunya kesehatan, kehidupan, penampilan, tingkah laku, dan sikap. Reaksi yang diberikan seseorang dalam menghadapi stressor menunjukkan karakter yang dimilikinya dan sampai dimana batas kemampuan mereka untuk mengatasinya. Menurut penelitian Datzer & Kelley (dalam Rini; 2002:1) stres dihubungkan dengan daya tahan tubuh yaitu berupa fisik, emosional dan perilaku. Pengaruh stres terhadap daya tahan tubuh ditentukan oleh jenis, lamanya, dan frekuensi stres yang dialami seseorang, jika stres yang dialami seseorang itu berjalan sangat lama membuat letih healt promoting response dan akhirnya melemahkan daya tahan itu sendiri. Dari beberapa definisi di atas dapat dilihat bahwa stres kerja memberikan pengaruh yang sangat besar pada kondisi psikologis maupun fungsi fisiologisnya, tetapi stres pada taraf tertentu dapat menjadi motivasi yang mendorong seseorang untuk maju dan berkembang. Semua orang tidak akan bereaksi sama terhadap suatu stressor karena respon seseorang terhadap stressor sangat dipengaruhi oleh ambang stres yang dimilikinya dan beberapa faktor lainnya, lagi pula stres kerja sangat mempengaruhi daya tahan tubuh karena ditentukan oleh jenis, lamanya dan frekuensi stres yang dialami seseorang, 

b. Sumber-sumber Stres kerja 

Sumber stres kerja menurut Wilkinson (2002:12) dapat berasal dari lingkungan fisik maupun mental / psikologis, Stressor fisik misalnya: kuman penyakit, kecelakaan, dan kekurangan gizi sedangkan stressor mental berupa frustrasi, konflik sosial, tekanan dan krisis. Cooper dan Marshall (dalam Hidayat; 1998:233-237) mengidentifikasikan 7 buah sumber stres kerja yang utama, diantaranya: faktor yang melekat dalam pekerjaan, peran dalam organisasi, hubungan-hubungan dalam organisasi, pengembangan karir, struktur dan iklim organisasi, hubungan perusahaan/organisasi dengan pihak luar, faktor yang ada dalam diri subyek. Dari ketujuh sumber tersebut jelas berhubungan dengan organisasi, sedang sisanya merupakan kombinasi dan bersifat individu, tapi bila ditelusuri lebih jauh ternyata faktor individu dan faktor organisasi merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Menurut Robbins (1996:224) sumber stres kerja yang potensial sebagai berikut: 

1. Lingkungan Perubahan dalam daur bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi ini sering diiringi dengan pengurangan yang permanen tenaga kerja, pemberhentian masal sementara, gaji yang dikurangi, pekan kerja yang lebih pendek dan semacamnya, selain itu ketidakpastian politik dan ketidakpastian teknologi dapat menyebabkan stres kerja. 

2. Organisasional Faktor yang menjadi sumber atau mempengaruhi stres kerja cukup banyak jumlahnya, sebagai berikut: kekaburan peran dan konflik peran, kelebihan beban kerja (work Overload), tanggung jawab terhadap orang lain (responsibility for people), pengembangan karier (career development), kurangnya kohesi kelompok, dukungan kelompok yang tidak memadai, struktur dan iklim organisasi (organizational structure and climate), wilayah organisasi (Organizational territory), karekteristik tugas (task characteristic), pengaruh kepemimpinan (leadership influence). 

3. Individual Lazimnya individu hanya bekerja 40 sampai 50 jam sepekan. Pengalaman dan masalah yang dijumpai orang diluar jam kerja yang lebih dari 120 jam tiap pekan dapat meluber ke pekerjaan, faktor ini mencakup isyu keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik kepribadian yang intern. Kesulitan pernikahan, pecahnya suatu hubungan dan kedisiplinan merupakan contoh masalah hubungan yang menciptakan stres bagi karyawan sehingga terbawa ke tempat kerja. 

Menurut Sutherland dan Cooper (dalam Smet; 1994:119) sumber stres kerja berasal langsung dari pekerjaan dan interaksi antara lingkungan sosial dengan pekerjaan, meliputi: 

1. Stressor yang ada dalam pekerjaan itu sendiri. (contoh: beban kerja, fasilitas kerja yang kurang, proses pengambilan keputusan yang lama)
2. Konflik peran, peran didalam kerja yang tidak jelas, tanggung jawab yang tidak jelas. 
3. Masalah dalam hubungan dengan orang lain. (contoh: hubungan dengan atasan, rekan sejawat, dan pola hubungan atasan dengan bawahan) 
4. Perkembangan karir: under/ over – promotion, dan keselamatan kerja. 
5. Iklim dan struktur organisasi 
6. Adanya konflik antara tuntutan kerja dengan tuntutan keluarga. 

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa sumber stres kerja berasal dari lingkungan yang meliputi: ketidakpastian politik, ekonomi, dan teknologi. Organisasi meliputi: kekaburan peran dan konflik peran, kelebihan beban kerja, struktur dan iklim organisasi, dan lain-lain. Individu meliputi: tuntutan keluarga, masalah ekonomi pribadi, konflik sosial.

 c. Tahapan Stres kerja 

Gangguan stres biasanya timbul secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan sering kali tidak menyadari, menurut Robert (dalam Hawari; 1999:50) tahapan stres dikemukakan sebagai berikut: 

1. Stres tingkat pertama Tahapan ini merupakan tingkat stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: semangat besar, penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya Tahapan ini biasanya menyenangkan sehingga orang bertambah semangat tanpa disadari sebenarnya cadangan energinya sedang menipis. 

2. Stres tingkat kedua Dalam tahapan ini dampak stres yang menyenangkan sudah mulai hilang, keluhan yang sering muncul adalah: merasa letih sewaktu bangun pagi, merasa lelah setelah makan siang, merasa lelah menjelang sore hari, terkadang muncul gangguan sistem pencernaan, perasaan tegang pada otot punggung dan tengkuk, perasaan tidak bisa santai 

3. Stres tingkat ketiga Tahapan ini keluhan keletihan mulai tampak disertai dengan gejala-gejala: gangguan usus lebih terasa, otot lebih tegang, gangguan tidur, perasaan tegang semakin meningkat, badan terasa goyang dan mau pingsan 

4. Stres tingkat empat Tahapan ini menunjuk pada keadaan yang lebih buruk dengan ciri: sulit untuk bertahan 
sepanjang hari, kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit, kehilangan kemampuan untuk menanggapi, situasi, pergaulan sosial, dan kegiatan-kegiatan lainya terasa berat, tidur semakin susah, perasaan negativistik, kemampuan berkonsentrasi menurun tajam, perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan 

5. Stres tingkat kelima Tahap ini lebih mendalam dari pada tahap keempat, yaitu: keletihan yang mendalam, pekerjaan sederhana saja kurang mampu dikerjakan, gangguan sistem pencernaan, perasaan yang mirip panik 

6. Stres tingkat keenam Tahap ini merupakan keadaan gawat darurat tidak jarang penderita dibawa ke ICCU, gejala tahap ini cukup mengerikan antara lain: debaran jantung yang amat kuat, sesak nafas, badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran, dan pingsan. Menurut Selye (dalam Hidayat; 1998:231) stres kerja dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

1. Tahap Alarm Stage, awal pengerahan dimana tubuh bertemu tantangan yang ditimbulkan penekanan. Jika penekanan sudah dikenali, otak segera mengirim suatu pesan biokimia keseluruh sistem dalam tubuh. Dengan tanda terjadinya dalam waktu yang sangat singkat, mempunyai ketegangan yang tinggi, denyut jantung meningkat, tekanan darah naik. 

2. Tahap Resistance (perlawanan), bila stres terus berlangsung maka gejala yang semula ada akan menghilang karena terjadi penyesuaian dengan lingkungan dan peningkatan daya tahan terhadap stres. 

3. Tahap Kolaps/Exhaustion (kehabisan tenaga), tubuh tidak mampu mengatasi stres yang dialami, energi menurun dan terjadi kelelahan, akhirnya muncul gangguan bahkan sampai kematian. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa tahapan stres kerja menunjukkan manifestasi di bidang fisik dan psikis, di bidang fisik berupa kelelahan sedangkan di bidang psikis berupa kecemasan dan depresi, hal ini dikarenakan penyediaan energi fisik maupun mental yang mengalami defisit terus-menerus semakin habis, sehingga daya tahan terhadap stres sangat lemah. 

d. Respon Terhadap Stres Kerja Setiap individu memberikan respon yang berbeda-beda pada stressor dan juga daya tahan individu dalam menghadapi stressor tersebut. 

Berkaitan dengan hal ini Hardjana (1994:24 - 26) membagi menjadi empat (4) respon stres, yaitu: 

1). Gangguan Emosional Jika seseorang stres, mereka akan memberikan respon yang bersifat cemas, gelisah, mudah marah, mudah tersinggung, depresi, rasa harga diri menurun, mood berubah-ubah. Namun tidak semua individu merasakan hal yang demikian, emosi yang berkaitan dengan stres biasanya berlawanan dengan emosi positif seperti bahagia, senang, dan cinta. Emosi stres yang paling umum terjadi adalah kecemasan dan depresi yang ditandai dengan perasan takut, cemas, gelisah, pesimis, dan merasa tidak berguna. 

2). Gangguan pada intelektual Gangguan ini berkaitan dengan berfikir, gangguan dalam konsentrasi, ingatan, sulit mengambil keputusan, suka melamun, kehilangan rasa humor, prestasi kerja yang menurun, mutu kerja rendah, dalam kerja bertambah jumlah kekeliruan yang dibuat bertambah. 

3). Gangguan pada fisikal Gangguan ini berkaitan dengan sakit kepala atau pusing, susah tidur, sulit buang air besar, tekanan darah naik atau serangan jantung, mengeluarkan keringat, berubah selera makan, lelah atau kehilangan daya energi, bertambah banyak melakukan kekeliruan atas kesalahan dalam kerja dan hidupnya. 

4). Gangguan pada interpersonal Stres ini mempengaruhi hubungan dengan orang lain baik di luar maupun di dalam, antara lain kehilangan kepercayaan kepada orang lain, mudah mempersalahkan orang lain, mudah membatalkan janji atau tidak memenuhinya, suka mencari-cari kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, mengambil sikap terlalu membentengi atau mempertahankan diri, dan suka mendiamkan orang lain.

Menurut Terry Beehr dan John Newman (dalam Rini; 2002:2), Wilkinson (2002:16) dan Neil Hibler (dalam Hager dan Hager; 1999:27) membagi respon stres kerja menjadi tiga (3) yaitu:

1. Reaksi emosional, meliputi: kecemasan, ketegangan, mudah marah, mengurung diri, lelah mental, sulit mengambil keputusan, tidak dapat menikmati liburan.

2. Reaksi fisik, meliputi: otot tegang, meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, lelah fisik, gangguan kardiovaskuler, perubahan nafsu makan. 

3. Reaksi perilaku, meliputi: menunda atau menghindari pekerjaan atau tugas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk, meningkatnya agresivitas dan kriminalitas, meningkatnya frekuensi absensi, kehilangan kepercayaan kepada orang lain, mudah mempersalahkan orang lain, mudah membatalkan janji, dan lain-lain. 

Menurut Everly dan Girndano (dalam Munandar; 2001:379) individu yang mengalami stres biasanya mengalami symptom fisiologis yang terbagi menjadi: 

a. Mood (suasana hati) hal ini berupa over excited, merasa cemas, sulit tidur pada malam hari, menjadi mudah bingung dan lupa, menjadi gugup. 

b. Muscculoskeletal symptom hal ini berupa sakit kepala, mulut terasa kering, perasaan tegang dan gugup, tubuh terasa lemas, dada terasa nyeri, perasaan goyang, munculnya ketegangan, kegoncangan, kelelahan, dan kesakitan. 

c. Symptomps of visceral (symptom organ dalam) berupa muncul perasaan mual pada perut, tangan dan kaki terasa dingin, kehilangan gairah seks, jantung berdebar-debar, napas terasa sesak, perut kejang-kejang dan terasa gemetar. 

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa respon yang saling berinteraksi dan tidak dapat dipisah-pisahkan, yaitu respon terhadap stres meliputi gangguan pada emosional, gangguan pada perilaku/ interpersonal, gangguan pada fungsi pikir/ intelektual dan gangguan pada fungsi aktifitas fisiologis/ fisik dengan demikian kita dapat mengetahui mana yang lebih sehat antara individu yang satu dengan yang lain. 

e. Faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja 

Reaksi terhadap stres kerja bervariasi antara orang yang satu dengan yang lain, perbedaan ini sering disebabkan oleh faktor psikologis dan sosial yang tampaknya dapat merubah dampak stres bagi individu. Menurut Smet (1994:131) faktor yang mempengaruhi pengalaman stres kerja menjadi lima (5), yaitu: 

1. Variabel dalam kondisi individu: umur, tahap perkembangan, jenis kelamin, temperamen, faktor genetik, inteligensi, pendidikan, suku, kebudayaan, status ekonomi, dan kondisi fisik.

2. Karakteristik kepribadian: introvert-ektrovert, stabilitas emosi secara umum, tipe kepribadian A, locus of control, kekebalan dan ketahanan. 

3. Sosial-kognitif: dukungan sosial yang dirasakan, jaringan sosial. 

4. Hubungan dengan lingkungan sosial, dukungan sosial yang diterima 
5. Strategi koping, mempunyai dua fungsi menurut Lazarus & Folkam (dalam Smet; 1994:145), yaitu: 

a. Emotion – Focused Coping (fokus pada emosi) di gunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres, dengan cara penghindaran, pengambilan jarak, perhatian yang bersifat selektif, dan pengambilan makna dari kejadian-kejadian yang negatif. 

b. Problem – Focused Coping (fokus pada pemecahan masalah). Individu akan mengatasinya dengan mempelajari cara-cara atau ketrampilan yang baru, individu akan cenderung melakukan strategi ini bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi. 

Menurut Sarafino (1990:94) faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja terdiri dari: 

1. Lingkungan fisik yang terlalu menekan (kebisingan, temperature, udara yang lembab, penerangan dikantor yang kurang terang. 
2. Kurang control. 
3. Kurangnya hubungan interpersonal.
4. Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja. 

Menurut Sunaryo (2004:216) faktor-faktor yang mempengaruhi stres adalah 
1. Faktor biologis, herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik 
2. Faktor psikoedukatif / sosiocultural, perkembangan kepribadian, pengalaman, dan kondisi yang mempengaruhi. 

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor variabel dalam kondisi individu, karakteristik kepribadian, sosial-kognitif, hubungan dengan lingkungan sosial dan strategi koping akan mempengaruhi stres kerja individu itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA 

Cooper, R.K & Sawaf, A. 2002. Executif EQ (Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan Dan Organisasi). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Clerq, L.D & Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan (Suatu Pendahuluan). Semarang: UNIKA. 

Davis, K & Newstrom, J.W. 1985. Perilaku Dalam Organisasi. Erlangga. 

Donnelly, G.I.1985. Organisasi (Perilaku, Struktur, Proses). Erlangga. 

Fawzi, I.L. 2001. Stres Kerja Pada Programmer Komputer Di lingkungan Kerja Bank (Jurnal Pengembangan Kualitas SDM dari Perspektif PIO). Jakarta: Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi UI. 

Hager, W.D & Hager, L.C. 1999. Stres Dan Tubuh Wanita. Batam: Interaksa. 

Hardjana, A.M.1994. Stres Tanpa Distres (Seni Mengelola Stres). Kanisius. 

Munandar, A.S. 2001. Psikologi Industri Dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia. 

Robbins, S.P.1996. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontrofesi, Aplikasi Jilid II (AB. Hadayana Pujaatmaka). Jakarta. Prenhallindo. 

Rini, J.F. 2002. Stres Kerja. Http: // www. e- Psikologi.com/ masalah/ stres.htm.
Saraswati, A.T. 2002. Daya Tahan Stres Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional Pada Remaja. Proposal (tidak diterbitkan). Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Semarang. 

Sarafino, E.P. 1990. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. Singapura: Wiley 

Siagian, S.P. 2003. Manajemen SDM. Jakarta: Bumi Aksara. 

Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 

Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Grasindo 

Wilkinson, G. 2002. Stres. Jakarta: Dian Rakyat.
Read more >>

Rabu, 05 Desember 2012

Tentang Saya

Lulusan Sarjana Psikologi Universitas Negeri Padang. Saat ini bekerja sebagai Staff Rekruitment di PT. Rea Kaltim Plantations. Memiliki pengalaman di bidang praktisi dan akademisi yakni pernah menjadi Narasumber pada Pelatihan karyawan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi, selain itu pernah menjadi jurnalis di media online di Jambi yakni di infoJambi. Pernah menjadi tester dan assessor rekruitmen di beberapa biro Psikologi seperti Propsychology Indonesia, juga berpengalaman membawakan seminar untuk berbagai tema psikologi.
Read more >>

Jumat, 16 September 2011

Perbedaan Aggressive Driving Pada Remaja Ditinjau Dari Frekuensi Perilaku Membolos



ABSTRAK

Judul                : Perbedaan Aggressive Driving Pada Remaja Ditinjau Dari Frekuensi Perilaku Membolos 
Nama                : Muhammad Reza
Pembimbing     : 1. Prof. Dr. Hj. Neviyarni S, M.S
                            2. Nurmina, S.Psi., M.A., Psikolog

Penelitian ini berawal dari fakta tingginya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pelajar di Kabupaten Kerinci. Kondisi ini mengindikasikan banyaknya pelajar yang aggressive driving disaat jam sekolah. Faktor yang menyebabkan aggressive driving adalah faktor internal seperti kepribadian, kelelahan, dan faktor eksternal yakni membolos. Membolos dapat mengarahkan remaja pada aggressive driving. Melihat dari gejala tersebut. Maka, peneliti tertarik untuk melihat perbedaan aggressive driving pada remaja ditinjau dari frekuensi perilaku membolos. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat perbedaan aggressive driving pada remaja ditinjau dari frekuensi perilaku membolos.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran aggressive driving remaja yang sering membolos dan remaja yang jarang membolos serta untuk mengetahui perbedaan aggressive driving pada remaja yang sering membolos dan remaja yang jarang membolos. Desain penelitian ini adalah komparatif. Subjek penelitian merupakan 24 orang remaja SMAN "X" Kerinci tahun ajaran 2010/2011; 12 orang yang mempunyai atau membawa kendaraan ke sekolah dengan perilaku membolos sering dan 12 orang yang mempunyai atau membawa kendaraan ke sekolah dengan perilaku membolos jarang dengan menggunakan teknik sampel tak acak dengan cara porposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan mempergunakan Skala Aggressive Driving yang disusun berdasarkan skala Likert sebanyak 34 butir. Data diperoleh dengan analisis uji beda dengan metode Mann-Whitney U Test menggunakan program SPSS 17.0 for windows.
Hasil uji hipotesis yang dilakukan mendukung hipotesis penelitian yaitu terdapat perbedaan aggressive driving pada remaja ditinjau dari frekuensi perilaku membolos dengan skor p = 0,016.

Kata Kunci : Aggressive Driving, Remaja, Perilaku Membolos

Read more >>