Friday, 21 November 2008

Penyesuai Diri

Prof. Dr. Zakiah Daradjat

Gangguan jiwa (neurose) dan penyakit jiwa (psychose) adalah akibat dari tidak mampunya orang menghadapi kesukaran-kesukarannya dengan wajar, atau tidak sanggup menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuain diri yang dilakukan secara tidak sadar diantaranya adalah :1.Frustasi (tekanan perasaan)

Frustasi ialah suatu proses yang menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya, atau menyangka akan terjadi sesuatu yang akan menghambat keinginannya. Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan terhalangnya keinginan seseorang.


Orang yang sehat mentalnya akan dapat menunda buat sementara pemuasan kebutuhannya itu atau ia akan dapat menerima frustasi itu buat sementara sambil menunggu kesempatan berikutnya. Tetapi jika orang tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara yang wajar. Maka ia akan berusaha mengatasi dengan cara-cara yang lain tanpa mengindahkan orang dan situasi di sekitarnya (misalnya dengan kekerasan). Atau ia berusaha mencari kepuasan dengan lamunan/khayalan. Apabila rasa tertekan itu sangat berat sehingga tidak bisa diatasinya, maka mungkin akan mengakibatkan gangguan atau penyakit jiwa pada orang tersebut.


Sesuatu hal yang sama-sama dialami oleh dua orang, mungkin salah seorangnya merasa tertekan sekali oleh hal itu, tetapi oleh orang yang lainnya dianggap biasa saja. Jadi frustasi itu disebabkan oleh tanggapan terhadap situasi. Tanggapan itu dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan kepercayaan kepada lingkungan.


Kepercayaan terhadap diri sendiri itu timbul apabila setiap rintanagn atau halangan dapat dihadapi dengan sukses. Sukses yang dicapai akan membawa kegembiraan yang selanjutkan menjadikan rasa percaya diri. Percaya diri akan membuat orang optimis dalam menjalani hidup, setiap persoalan yang datang akan dihadapi dengan tenang sehingga dapat dianalisa problem yang sedang dihadapi tersebut.


Tetapi sebaliknya orang yang sering mengalami kegagalan dalam hidupnya, akan merasa kecil hati dan kecewa, sehingga lama kelamaan akan berkurang kepercayaan kepada dirinya. Ia menjadi pesimis dalam menghadapi kesukaran, karena setiap kali ada kesukaran atau persoalan yang harus dihadapinya, sudah terbanyang kegagalan sebelum dicoba menghadapinya.


Dengan demikian kepercayaan kepada dirinya itu ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang dilalui sejak kecil. Sukses dan kegembiraan akan menambah rasa percaya diri dan akan mempengaruhi kesuksesan di masa datang. Sebaliknya kegagalan dan situasi yang mengecewakan akan mengurangi rasa percaya diri dan akan mengakibatkan kegagalan di masa mendatang.



2.Konflik (Pertentangan batin)

Konflik jiwa atau pertentangan batin adalah adanya dua macam dorongan atau lebih yang berlawanan satu sama lain, dan tidak dapat dipenuhi dalam waktu yang bersamaan. Konflik dibagi dalam 3 bagian yaitu :

Pertama : pertentangan antara dua hal yang diinginkan, yaitu adanya dua hal yang sama-sama diingini tetapi tidak mungkin diambil keduanya. Contohnya, seorang gadis dipinang oleh dua orang yang sama-sama baik dan mapan dalam hidup.


Kedua : pertentangan antar dua hal yang pertama diingini sedang yang kedua tidak diingini. Misalnya seorang ibu yang ingin supaya anaknya ikut piknik dengan teman sekolahnya, tapi dilain pihak ia takut kalau anaknya dapat kecelakaan di jalan.


Ketiga : pertentangan antara dua hal yang tidak diingini, yaitu orang menghadapi situasi yang menimbulkan dua hal yang sama-sama tidak disenangi. Misalnya seorang militer yang sedang bertempur di medan perang. Ia ingin tetap hidup, akan tetapi takut akan pengadilan militer jika ia lari dari perang.


3.Kecemasan (anxiety)

Kecemasan adalah manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yan terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan mempunyai segi yang disadarinya seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa bersalah, terancam dan sebagainya. Juga ada segi-segi yang terjadi di luar kesadaran dan tidak bisa menghindari perasaan yang tidak menyenangkan itu. Rasa cemas itu terdapat dalam semua gangguan jiwa, dan ada bermacam-macam pula.


Pertama : rasa cemas yang timbul akibat melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam dirinya. Cemas ini lebih dekat kepada rasa takut, karena sumbernya jelas terlihat dalam pikiran, misalnya seorang mahasiswa yang sepanjang tahun bermain-main saja, merasa cemas apabila ujian datang.



Kedua : rasa cemas yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Yang paling sederhana adalah cemas yang paling umum. Ada pula cemas dalam bentuk takut terhadap benda atau suatu hal misalnya takut melihat serangga. Selanjutnya cemas dalam bentuk ancaman, yaitu kecemasan yang menyertai gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa. Orang merasa cemas karena menyangka akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, sehingga ia merasa terancam oleh sesuatu itu.


Ketiga : cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Cemas ini sering pula menyertai gejala gangguan jiwa. Gejala cemas ada yang berbentuk fisik dan ada yang berbentuk mental. Gejala fisik seperti ujung-ujung jari terasa dingin, pencernaan tidak teratur, pukulan jantung cepat, keringat bercucuran, tidur tidak nyenyak, nafsu makan hilang, kepala pusing, sesak nafas dan sebagainnya.


Bermacam-macam cara dapat dilakukan untk mengatasi perasaan tertekan, pertentangan batin dan kecemasaan itu. Perasaan-perasaan seperti itu sangat mengurangi rasa bahagia sehingga kadang-kadang orang terdorong melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak itu.


Cara yang terbaik untuk menghilangkan ketegangan batin ialah dengan jalan menghilangkan sebab-sebabnya. Tetapi tidak semua orang sanggup mengatasinya dengan cara tersebut, dan mencari jalan lain yaitu berupa usaha-usaha yang tidak disadari. Cara-cara tersebut antara lain :


1.Pembelaan

Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk akal bagi tindakan yang sesungguhnya tidak masuk akal, dinamakan pembelaan. Pembelaan ini tidak bermaksud untuk membujuk atau membohongi orang lain, akan tetapi membujuk dirinya sendiri supaya tindakan yang tidak bisa di terima itu menjadi wajar. Lain halnya dengan dusta dimana penyelewengan terjadi secara nyata dan disadari dan berusaha membujuk orang lain. Contohnya seorang pemuda yang naksir gadis tapi di tolak oleh gadis dan sang pemuda mencari pembelaan dengan mencari kelemahan-kelemahan dan keburukan si gadis.


2.Proyeksi

Proyeksi adalah menimpakan sesuatu yang terasa dalam dirinya kepada orang lain, terutama tindakan, pikiran atau dorongan-dorongan yang tidak masuk akal sehingga dapat di terima dan kelihatnya masuk akal. Misalnya seorang yang menghadapi kegagalan dalam sekolah, kantor, atau yang lainnya, tidak mengetahui kelemahan dan kesalahan yang mencari pada orang lain, atau sesuatu di luar dirinya untuk dipersalahkan supaya ia dapat menghindari rasa gelisah dan rasa rendah diri.


3.Identifikasi

Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut merasakan sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang lain. Apabila ia melihat orang berhasil dalam usahanya ia gembira seolah-olah ia yang sukses. Dan apabila melihat orang kecewa ia juga ikut merasa sedih.


Dengan identifikasi, orang mencapai kepuasan dengan apa yang dicapai oleh orang lain, walaupun ia sendiri tidak mampu mencapainya. Misalnya kita merasa bangga dan puas apabila pemain-pemain yang kita sukai menang dalam pertandingan.


dentifikasi hampir sama dengan meniru, hanya pada meniru orang mengambil sifat-sifat orang lain menjadi contoh yang akan diikuti. Akan tetapi pada identifikasi tidak terbantas hanya pada meniru, tetapi seolah-olah ia sendiri yang ditiru, sehingga ia merasa gembira atas sukses yang dicapai oleh orang yang di tiru dan merasa sedih atas kesusahan yang menimpanya.

4.Hilang Hubungan (disassosiasi)

Seharusnya perbuatan, pikiran dan perasaan orang berhubungan satu sama lain. Apabila orang merasa bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyinggung perasannya, maka ia akan marah dan membalas dengan tindakan yang sama. Dalam hal ini perasaan, pikiran dan tindakan adalah saling berhubungan dengan harmonis. Akan tetapi keharmonisan itu mungkin hilang akibat pengalaman-pengalaman pahit yang dilalui waktu kecil. Disasosiasi dibagi dalam 2 golongan yaitu tindakan terpaksa (compulsive) dan tindakan pengganti (exessive). Tindakan terpaksa; orang merasa terdorong atau terpaksa melakukan suatu tindakan tanpa disadari dengan jelas faktor pencetusnya. Misalnya mengulang ulang mencuci tangan. Tindakan pengganti; orang berpikir dan berbicara tentang sesuatu sebagai pengalih perhatian atas ketidakmampuan suatu hal dan agar tidak merasa rendah diri.

5.Represi

Represi adalah tekanan untuk melupakan hal-hal dan keinginan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Semacam usaha diri agar tidak bertolak belakan dengan hati nurani. proses ini terjadi tanpa disadari. Misalnya seorang anak yang benci kepada orang tuanya akibat perlakuan orang tua terhadapnya. Akan tetapi menurut akidah Islam, tidak boleh benci pada orang tua. Karenanya ia tidak mau mengakui perasaan benci dan durhaka itu, karena berlawanan dengan hati nuraninya, dan perasaan itu ditekan sampai lupa.



6.Substitusi

Substitusi adalah cara pembelaan yang diri paling baik diantara cara-cara yang tidak disadari dalam menghadapi kesukaran. Substitusi terdiri dari dua golongan, yaitu :

Pertama : sublimasi, pengungkapan dari dorongan yang tidak dapat di terima dalam masyarakat dengan cara yang di terima. Misalnya melakakan kegemarannya untuk menghambat dorongan seksuil yang tidak wajar.

Kedua : kompensasi usaha untuk mencapai suatu sukses dalam suatu lapangan setelah gagal dalam lapangan yang lain. Misalnya seorang anak yang tidak dapat berolah raga, bersungguh-sungguh sekali dalam pelajaran. Sehingga ia menjadi anak terpandai di kelasnya. Dan menjadi pusat perhatian guru-guru dan teman-temannya.

http://refleksiteraphy.com

0 comments: