Sunday, 20 March 2011

Perilaku Pengambilan Risiko

A. Perilaku Pengambilan Risiko
1. Pengertian Perilaku Pengambilan Risiko
Menurut Darmawi (2006:18) “subjek risiko begitu kompleks terdapat dalam berbagai bidang yang berbeda, sehingga tak mengherankan jika terdapat berbagai pengertian yang berbeda pula tentang risiko”. Menurut Vaughan (dalam Darmawi, 2006:18)) ada beberapa definisi risiko yakni :
1. Risiko adalah kans kerugian,
2. Risiko adalah kemungkinan kerugian,
3. Risiko adalah ketidakpastian,
4. Risiko adalah penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan, dan
5. Risiko adalah probalitas suatu outcome berbeda outcome yang diharapkan.
Dengan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa risiko selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang negatif yang tidak diinginkan. Meskipun risiko adalah hal yang merugikan, namun tiap orang mempunyai cara tersendiri dalam pengambilan risiko. Ada orang yang dalam pengambilan risiko berani dan ada pula yang bersifat pasif karena memikirkan konsekuensi negatif dari risiko.
Risiko berhubungan dengan esensi dasar manusia diantaranya adalah perilaku pengambilan risiko. Kindler (1999:1) mengungkapkan bahwa pengambilan risiko adalah suatu proses dimana seseorang memutuskan apakah kemungkinan tidak akan kehilangan sesuatu yang dinginkan. Sedangkan Bell & Bell’s (dalam Karaman & Cok, 2007:358) mendefinisikan bahwa pengambilan risiko hanya mencakup perilaku kehendak di mana hasil tetap tidak menentu dengan kemungkinan diidentifikasi sebagai hasil kesehatan negatif.
Fuller (dalam Karaman & Cok, 2007:358) menjelaskan bahwa pengambilan risiko tidak hanya di bawah kontrol pengambilan keputusan sadar, tetapi lebih sering muncul dari pengkondisian individual, dan ini sering disertai dengan ilusi keterlibatan sadar. Senada dengan Fuller, Trimpop (dalam Morsunbul, 2009:235) juga mendefinisikan bahwa pengambilan risiko adalah setiap perilaku baik disadari atau tidak disadari yang diikuti dengan ketidakpastian yang dirasakan tentang hasilnya, atau tentang kemungkinan keuntungan bagi fisik, kesejahteraan ekonomi atau psikososial bagi individu atau orang lain.
Levenson (1990:1073) mendefinisikan perilaku pengambilan risiko sebagai segala bentuk aktivitas yang dapat memunculkan masalah atau bahaya yang menimbulkan kecemasan baik bagi individu maupun orang lain.
Spring, Maryland & Baltimore, (1995:6) mendefinisikan perilaku pengambilan risiko merupakan tindakan yang mungkin atau tidak mungkin atas kehendak tetapi sesuatu kemungkinan yang melibatkan beberapa kemungkinan kerugian.
Pendapat lain diungkapkan oleh Bener & Crundall (2004:4) bahwa perilaku pengambilan risiko mungkin dipengaruhi oleh rangsangan dan gairah terutama jika sopir berkendara dengan kecepatan tinggi, tetapi juga akan dipicu oleh frustrasi atau kemarahan pengguna jalan lain atau kondisi jalan, tekanan waktu selama perjalanan, dan penyimpangan sosial.
Menurut Jessor, Chase & Danovan, Gonzales & Field (dalam Ozmen, 2006:10) perilaku pengambilan risiko dikonseptualisasikan sebagai keterlibatan individu dalam perilaku yang menyimpang secara signifikan dari norma-norma budaya yang dominan dan yang memiliki efek jangka panjang dalam hal kesehatan atau sosial dan konsekuensi psikologis.
Dari beberapa konsep diatas dapat dilihat bahwa perilaku pengambilan risiko memiliki pengaruh dalam banyak hal salah satunya mengemudi dan dapat disimpulkan bahwa perilaku pengambilan risiko adalah segala bentuk tindakan baik yang disadari maupun tidak yang dapat menimbulkan kerugian bagi individu dan orang lain karena tujuannya berorientasi pada masalah dan membahayakan orang lain, selain itu juga didasari oleh kesejahteraan psikologis dan kesenangan individu.
2. Teori Perilaku Pengambilan Risiko
Spring, Maryland & Baltimore (1995:2) mengatakan bahwa teori kontemporer pengambilan risiko mempertimbangkan interaksi antara karakteristik individu dan konteks lingkungan sosial. Teori umumnya berbeda dalam pengertian khusus dan dalam bobot relatif tentang resiko untuk atribut perbedaan individu dalam perilaku.
Dibawah ini akan dijelaskan tentang teori utama dari perilaku pengambilan risiko, yakni :
a. Konsep Risiko Biomedis
Menurut Spring, Maryland & Baltimore (1995:3) suatu model biomedis digunakan untuk menggambarkan perilaku pengambilan risiko remaja adalah epidemiologi klasik antara pelaku, agent, dan model lingkungan. Meskipun model ini secara tradisional telah diterapkan untuk mempelajari proses penyakit menular, namun beberapa peneliti telah mengadaptasinya untuk penyelidikan faktor resiko dalam lingkungan sosial dan arena perilaku.
Irwin (dalam Spring, Maryland & Baltimore, 1995:3) mendefinisikan prilaku pengambilan risiko sebagai hal yang melibatkan faktor biologis maupun faktor psikososial. Lebih lanjut Irwin (dalam Spring, Maryland& Baltimore, 1995:3) mengatakan bahwa pubertas sebagai kekuatan pemicu untuk perilaku risiko remaja. Waktu pubertas mempengaruhi persepsi individu tentang lingkungan sosial, persepsi, perkembangan kognitif, dan nilai-nilai pribadi.
b. Pendekatan Problem Behavioral
Problem behavioral theory (PBT) dikemukan oleh Jessor (dalam Spring, Maryland & Baltimore, 1995:74) yang menyebutkan bahwa para pengaruh behavioral tidak lagi menganggap seperti harga diri yang rendah, disposisi genetik sebagai faktor penyebab tunggal pengambilan risiko pada individu.
c. Pendekatan Perkembangan
Pandangan perkembangan menunjukkan bahwa pengambilan risiko tidak dapat didefinisikan terpisah dari konteks perkembangan remaja, Lerner & Tubman (dalam Ozmen 2006 :13). Hal ini dikarenakan remaja memainkan banyak peran, dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain.
d. Pendekatan Kognitif
Beyth & Marom, Austin, Fischoff, Palmgren, Jacobs & Quadrel (dalam Ozmen 2006:15) menjelaskan dari pandangan psikolog kognitif perilaku berisiko dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang membutuhkan beberapa kesempatan kehilangan. Risiko mengacu pada kemungkinan kerugian yang dirasakan, Furby & Beyth, Marom, Winterfeld & Edwards, Yates (dalam Spring, Maryland & Baltimore, 1995:6).
e. Teori pembelajaran Sosial
Menurut Spring, Maryland & Baltimore (1995:7) dari perspektif teori pembelajaran sosial, remaja belajar perilaku melalui proses perilaku pemodelan dan penguatan. Pandangan tentang keterlibatan dalam perilaku berisiko adalah "praktek standar" antara rekan sebaya yang juga membantu untuk menciptakan norma-norma yang mendukung perilaku beresiko.
Teori-teori diatas merupakan teori yang dikategorikan menurut bagaimana perilaku pengambilan risiko didefinisikan. Dapat disimpulkan bahwa konsep resiko biomedis memandang perilaku pengambilan risiko sebagai sebuah penyakit menular, PBT memandang perilaku pengambilan risiko tidak hanya disebabakan oleh faktor tunggal tetapi ada faktor lain yang juga berkontribusi, teori perkembangan menyatakan bahawa perilaku pengambilan risiko tidak terlepas dari perkembangan individu, teori pengambilan keputusan atau kognitif melihat persepsi individu tentang risiko sebagai tugas pemrosesan informasi, dan teori pembelajaran sosial melihat mengemudi sebagai kelompok daripada proses individu.

3. Sumber-Sumber Risiko
Menurut Darmawi (2006:28) sumber-sumber risiko dapat diklasifikasikan sebagai risiko sosial, risiko fisik, dan risiko ekonomi dan menentukan sumber risiko adalah penting karena mempengaruhui cara penanganannya.
1. Risiko Sosial
Sumber utama risiko adalah masyarakat, artinya tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan kita. Orang-orang dapat menyebabkan kecelakaan yang mencidrai diri mereka sendiri dan orang lain sehingga menyebbakan kerusakan harta dan jiwa yang besar.
2. Risiko Fisik
Ada banyak sumber risiko fisik sebagiannya adalah fenomena alam, sedangkan lainnya disebabkan kesalahan manusia. Banyak risiko yang kompleks sumbernya tetapi termasuk terutama kategori fisik seperti : kebakaran, dan cuaca.
3. Risiko Ekonomi
Banyak risiko yang dihadapi seseorang itu bersifat ekonomi, seperti tabrakan mobil yang berupa kecelakaan akan menimbulkan pengeluaran.
4. Dimensi Perilaku Pengambilan Risiko
Menurut Darmawi (2006:23) risiko mempunyai empat bentuk yakni:
a. Fisik, adalah suatu kondisi yang bersumber pada karekteristik secara fisik dari suatu obyek yang dapat memperbesar suatu kemungkinan terjadinya kerugian.
b. Moral, adalah suatu kondisi yang bersumber dari orang yang bersangkutan yang berkaitan dengan sikap mental atau pandangan hidup serta kebiasannya yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu kerugian.
c. Morale. Meskipun pada dasarnya seseorang tidak menginginkan terjadinya suatu kerugian, akan tetapi merasa bahwa ia telah memperoleh jaminan baik atas diri maupun hartanya, maka seringkali menimbulkan kecerobohan atau kurang hati-hati.
d. Legal, seringkali berdasarkan peraturan-peraturan ataupun perundang-undangan yang bertujuan melindungi masyarakat justru diabaikan ataupun kurang diperhatikan sehingga dapat memperbesar terjadinya sutau kerugian.
Johnson, dkk (dalam Hewitt, Regoli & Kierkus, 2006:9) menunjukkan bahwa perilaku pengambilan risiko bervariasi di seluruh domain misalnya, investasi, perjudian, kesehatan, rekreasi, etika, dan sosial.
Furby dan Beyth & Marom (dalam Hewitt, Regoli & Kierkus, 2006:16-17) menyebutkan bahwa ada lima dimensi perilaku pengambilan risiko yakni: pertimbangan pada pilihan yang berbeda, identifikasi terhadap kemungkinan konsekuensi dari memilih opsi, menempatkan nilai yang mungkin berbeda pada konsekuensi, penilaian kemungkinan konsekuensi, dan penggunaan aturan-aturan keputusan yang berbeda.
Sementara itu Gullone, dkk (dalam Hewitt, Regoli, Kierkus, 2006:17) mengemukakan dimensi perilaku pengambilan risiko remaja dalam empat kategori yakni :
1. Perilaku mencari sensasi, dapat dipahami sebagai perilaku pengambilan risiko kearah positif yakni sejauh mana individu diterima secara sosial. Perilaku mencari sensasi ditemukan secara positif berkaitan dengan persepsi risiko. Artinya, "semakin tinggi risiko yang dirasakan, semakin besar kemungkinan bahwa remaja akan terlibat dalam perilaku positif.“
2. Perilaku memberontak, dipandang sebagai hal yang memiliki potensi konsekuensi negatif, dimana individu selalu menentang hal yang tidak disenanginya.
3. Perilaku ugal-ugalan, sebagai hal yang memiliki potensi konsekuensi negatif yang berorientasi umum terhadap bahaya dan kekerasan, keberanian dan petualangan, mencari sensasi, mengemudi dengan kecepatan tinggi, daya tarik untuk aman dan tidak aman, dan
4. Perilaku antisosial, dipandang sebagai hal yang juga memiliki potensi konsekuensi negatif. Menurut Sunaryo (2004:124) antisosial merupakan perilaku yang berulang-ulang yang membawa konflik bagi masyarakat karena dasarnya tidak tersosialisasi.
Pendapat lain diungkapkan oleh Blais & Weber, (2002:272) yang menyebutkhan bahwa perilaku pengambilan risiko tergambar dalam lima model domain yakni :
1. Etika, merupakan nilai-nilai budaya yang berlaku dimasyarakat untuk ditaati dan dijalankan oleh individu.
2. Keuangan, perilaku yang direncanakan mungkin menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam perilaku dalam norma subjektif tentang kesesuaian mengambil risiko keuangan.
3. Kesehatan atau kesalamatan, yakni perilaku yang berorientasi kepada hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan individu baik secara fisik maupun kesejahteraan psikologis (seperti: memakai sabuk pengaman saat mengemudi, merokok, dan lain-lain).
4. Sosial, yakni bagaimana seseorang mendeteksi dan mempunyai pemahaman tentang perasaan, motif, dan keprihatinan terhadap anggota keluarga maupun orang lain dengan mempertimbangnkan berbagai resiko yang muncul. Hubungan antara seseorang dengan orang lain sangat rentan dengan konflik, maka dari itu diperlukan pengambilan keputusan yang efektif agar tidak terjadi kesalahpahaman.
5. Rekreasi, merupakan segala tindakan yang berorientasi kepada kesenangan dan kesejahteraan psikologis.
Berbagai konsep mengenai perilaku pengambilan risiko yang dikemukakan para ahli, dan dalam penelitian ini peneliti menggunakan konsep perilaku pengambilan risiko dari Blais & Weber yang membagi perilaku pengambilan risiko dalam 5 model yakni : etika, keuangan, kesehtan atau keselamatan, sosial, dan rekreasi.
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pengambilan Risiko
Zuckerman (dalam Arnett 1992:354) mengatakan bahwa pengambilan risiko dipengaruhi oleh interaksi mencari sensasi dan kecemasan. Sedangakan Greene, dkk (dalam Heck & Carlos, 2006:3) mengidentifikasi egosentrisme masa remaja sebagai tambahan faktor perkembangan yang mempengaruhi perilaku pengambilan risiko.
Irwin (dalam Spring, Maryland & Baltimore (1995:12) mengungkapkan pengambilan risiko adalah sebuah model biopsikososial yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : kualitas sekolah, tingkat kemiskinan, komposisi ras dari masyarakat, atau sumber daya lingkungan.
Menurut Jessor (dalam Spring, Maryland & Baltimore, 1995:11) dari perspektif sosialpsikologis, perilaku pengambilan risiko remaja dipandang sebagai produk interaksi antara beberapa faktor konseptual domain, yaitu :
1. Biologi atau Genetika.
Genetika merupakan faktor yang menentukan batas dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada organisme dalam lingkungan kehidupannya dan genetika juga penentu sifat-sifat unik individu. Genetika dapat mempengaruhi perilaku yang berkaitan dengan frekuensi dan kuantitas perilaku pengambilan resiko. Menurut Sunaryo (2004:8) faktor genetik atau keturunan merupakan konsepsi dasar kelanjutan perkembangan mahkluk hidup. Faktor genetik berasal dari dalam diri individu, yakni : jenis ras, jenis kelamin, dan sifat fisik, sifat kepribadian, bakat pemabwaan, dan intelegensi.
2. Lingkungan sosial.
Faktor-faktor dalam lingkungan sosial seperti kemiskinan dapat mempengaruhi perilku remaja. Menurut Sunaryo (2004:11) faktor lingkungan menyangkut segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik fisik, biologis, mapun sosial.
3. Kepribadian.
Individu dengan kepribadian yang stabil, dapat menyesuaikan diri dengan baik dalam semua bidang sosial dan merupakan penggerak yang aman untuk semua aset, serta individu dengan tipe kepribadian A adalah individu yang rentan terhadap kecelakaan.
4. Perilaku
Menurut Sunaryo (2004:15) perilaku merupakan tanggapan individu terhadap rangsangan yang berasal dari dalam maupun luar diri individu tersebut.
Ada banyak hal yang dapat mendorong seseorang melakukan perilaku pengambilan risiko. Dari penjelasan diatas diketahui faktor-faktor yang berperan dalam perilaku pengambilan risiko individu adalah faktor perkembangan, sosial, biologis atau genetika, dan faktor kognitif.

5 comments:

Anonymous said...

Admin, boleh mnta referensinya ga apa aja??? lgi perlu buat skripsi ni, klo boleh di share ya admin

Anonymous said...

Admin, boleh mnta referensinya ga?? lgi perlu buat skripsi ni, klo boleh di share ya admin

Muhammad Reza said...

silahkan hubungi saya ya 085369975967

Cita Widiyantari said...

apakah nomernya masih aktif?
saya juga butuh refrensi untuk skripsi :)

Cita Widiyantari said...

apakah nomernya masih aktif?
saya juga butuh untuk skripsi